google search

Senin, 24 Januari 2011

Sebuah Kisah Kasih


Yesus Mengasihi AkuSuatu hari, aku bangun dini hari untuk menyaksikan sang surya terbit. Dan keindahan karya ciptaan Tuhan sungguh tak terlukiskan. Sementara aku mengaguminya, aku memuliakan Tuhan oleh karena karya-Nya yang mempesona. Sementara aku duduk di sana, aku merasakan kehadiran Allah dalam diriku.

Ia bertanya kepadaku,
“Apakah engkau mengasihi Aku?”
Aku menjawab, “Tentu saja Tuhan! Engkaulah Allah dan Juruselamat-ku!”

Kemudian Ia bertanya,
“Seandainya engkau cacat jasmani, apakah engkau akan tetap mengasihi Aku?”

Aku terpana. Aku memandangi tanganku, kakiku dan seluruh bagian tubuhku yang lain sambil memikirkan betapa banyak pekerjaan yang tidak akan dapat aku lakukan, pekerjaan-pekerjaan yang selama ini aku anggap biasa. Dan aku menjawab, “Akan sangat berat Tuhan, tetapi aku akan tetap mengasihi Engkau.”

Kemudian Tuhan berkata,
“Seandainya engkau buta, apakah engkau akan tetap mengagumi ciptaan-Ku?” Bagaimana aku dapat mengagumi sesuatu tanpa dapat melihatnya? Kemudian pikiranku melayang kepada orang-orang buta di muka bumi ini dan betapa banyak di antara mereka yang mengasihi Tuhan dan mengagumi ciptaan-Nya. Jadi aku menjawab, “Sulit dibayangkan Tuhan, tetapi aku akan tetap mengasihi Engkau.”

Kemudian Tuhan bertanya kepadaku,
“Seandainya engkau tuli, apakah engkau akan tetap mendengarkan firman-Ku?”
Bagaimana aku dapat mendengar jika aku tuli? Aku tersadar, mendengarkan Firman Tuhan tidak hanya dengan telinga, tetapi dengan hati. Maka aku menjawab, “Akan sangat berat, Tuhan, tetapi aku akan tetap mendengarkan firman-Mu.”

Kemudian Tuhan bertanya,
“Seandainya engkau bisu, apakah engkau akan tetap memuliakan Nama-Ku?”
Bagaimana aku dapat memuji tanpa bersuara? Lalu menjadi jelas bagiku: Tuhan menghendaki kita menyanyi dari kedalaman hati dan jiwa kita. Tidak jadi soal apakah suara kita terdengar sumbang. Dan memuliakan Tuhan tidak selalu dengan nyanyian, tetapi dengan berbuat baik kita menyampaikan pujian kepada Tuhan dengan ucapan syukur. Jadi aku menjawab, “Meskipun aku tidak dapat melantunkan nyanyian pujian, aku akan tetap memuliakan Nama-Mu.”

Dan Tuhan bertanya, “Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?”
Dengan tegas dan penuh keyakinan, aku menjawab lantang, “Ya Tuhan! Aku mengasihi Engkau karena Engkaulah satu-satunya Allah yang Benar.”

Aku pikir aku telah menjawab dengan benar, tetapi ….

Tuhan bertanya, “JIKA DEMIKIAN, MENGAPA ENGKAU BERDOSA?”

Aku menjawab, “Karena aku hanyalah seorang manusia yang tidak sempurna.”

“JIKA DEMIKIAN, MENGAPA PADA SAAT SUKA ENGKAU MENYIMPANG JAUH?
MENGAPA HANYA PADA SAAT DUKA SAJA ENGKAU BERDOA DENGAN KHUSUK?"

Tidak ada jawaban. Hanya air mata.

Tuhan melanjutkan:

“Mengapa melantunkan pujian hanya di gereja dan di tempat-tempat retret?
Mengapa datang kepada-ku hanya pada saat doa?
Mengapa meminta dengan demikian egois?
Mengapa tidak setia?”

Air mata mengalir jatuh di pipiku.

“Mengapa engkau malu akan Aku?
Mengapa engkau tidak mewartakan Kabar Sukacita?
Mengapa pada saat aniaya engkau berpaling kepada yang lain sementara Aku menyediakan punggung-Ku untuk memikul bebanmu?
Mengapa mengajukan alasan-alasan ketika Aku memberimu kesempatan untuk melayani dalam Nama-Ku?”

Aku berusaha menjawab, tetapi tidak ada jawab yang keluar.

“Engkau dikaruniai hidup. Aku menciptakan engkau, jangan sia-siakan hidupmu.
Aku memberkati engkau dengan talenta-talenta untuk melayani Aku, tetapi engkau senantiasa menghindar.
Aku telah menyingkapkan rahasia Firman-Ku kepadamu, tetapi pengetahuanmu tidak bertambah.
Aku berbicara kepadamu, tetapi telingamu tertutup rapat.
Aku menunjukkan belas kasih-Ku kepadamu, tetapi matamu tidak melihat.
Aku mengirimkan penolong-penolong bagimu, tetapi engkau duduk berpangku tangan sementara mereka engkau singkirkan.
Aku mendengarkan doa-doamu dan Aku telah menjawab semuanya.”

“APAKAH ENGKAU SUNGGUH MENGASIHI AKU?”

Aku tidak mampu menjawab. Bagaimana mungkin? Aku amat malu.
Aku tidak punya penjelasan. Apa yang dapat aku katakan?
Ketika hatiku menjerit dan air mata telah membanjir, aku berkata,
“Ampuni aku, Tuhan. Aku tidak layak menjadi anak-Mu.”

Tuhan menjawab, “Itu Rahmat, Anak-Ku.”
Aku bertanya, “Jika demikian, mengapa Engkau terus-menerus mengampuni aku? Mengapa Engkau demikian mengasihi aku?”

Tuhan menjawab, “Karena engkau adalah Ciptaan-Ku. Engkau adalah Anak-Ku. Aku tidak akan meninggalkan engkau.”

Jika engkau menangis, hati-Ku hancur dan Aku akan menangis bersamamu.
Jika engkau bersorak kegirangan, Aku akan tertawa bersamamu.
Jika engkau putus asa, Aku akan menyemangatimu.
Jika engkau jatuh, aku akan mengangkatmu.
Jika engkau lelah, Aku akan menggendongmu.
Aku akan menyertaimu sampai akhir jaman, dan Aku akan selalu mengasihimu selamanya.”

Belum pernah aku menangis sedemikian pilu sebelumnya.
Bagaimana mungkin aku bersikap dingin dan beku selama ini?
Bagaimana mungkin aku melukai hati-Nya dengan segala kelakuanku? Aku bertanya kepada Tuhan, “Berapa besar Engkau mengasihi aku, Tuhan?”

Tuhan merentangkan kedua belah tangan-Nya, dan aku melihat tangan-Nya yang berlubang tertembus paku.
Aku bersimpuh di kaki Kristus, Juruselamat-ku.
Dan untuk pertama kalinya aku berdoa dengan segenap hati.


Anonim

Jumat, 07 Januari 2011

Garden Tomb, Yerusalem


Masuk ke Garden Tomb, di mana beberapa percaya bahwa Yesus dikuburkan.


Garden Tomb, Yerusalem
Fasad Makam Garden

dari dinding Kota Tua.


"Tengkorak" di batu di dekat Taman Makam


Ruang pemakaman di Taman Makam


Penguburan bangku dengan sarkofagus dipotong.

Map
Satellite
Hybrid
Lokasi peta dan melihat udara Garden Tomb



Makam Garden adalah alternatif dari Gereja Makam Suci sebagai situs sebenarnya dari 'pemakaman Yesus di Yerusalem . Ia ditemukan pada tahun 1867 dan sangat populer dengan Protestan sebagai tempat pengabdian.

Sejarah

Pada abad ke-19, sejumlah ulama membantah identifikasi Gereja Makam Suci dengan situs sebenarnya penyaliban dan penguburan Yesus. Pada tahun 1842, Otto Thenius mengusulkan bahwa singkapan berbatu di luar tembok itu Kalvari (Golgota), tempat tengkorak.

Taman Makam itu sendiri ditemukan tahun 1867, dan segera diidentifikasi sebagai tempat pemakaman Yesus, terutama karena lokasinya di daerah yang telah diidentifikasi sebagai Kalvari. Faktor lain yang mendukungnya adalah penemuan baru-baru ini batu nisan dari Nonnus diakon di Gereja dekat St Stephen, yang menyebutkan Makam Kudus.

Gereja Anglikan berkomitmen ke situs sebagai tempat pemakaman Yesus dan "Gordon's Tomb" menjadi "Garden Tomb. Gereja sejak menarik dukungan formalnya, tapi Taman Makam terus diidentifikasi dengan kesalehan Protestan populer.

Keaslian

Sangat mudah untuk melihat mengapa Makam Garden adalah situs populer untuk kesalehan Protestan - hal ini jelas berada di luar dinding, itu adalah di samping tempat yang terlihat seperti tengkorak, itu sesuai dengan apa yang membayangkan ketika membaca kisah Injil, dan itu jauh lebih mudah untuk berdoa dan merenungkan sini daripada di Gereja ramai Makam Kudus.

Tetapi adalah Taman Makam benar-benar makam Yesus? Alasan utama sebagian orang berpikir demikian adalah bahwa rekening awal pemakaman (misalnya Ibrani 13:12) menggambarkannya sebagai yang terjadi di luar tembok kota. Dan hari ini, Makam Garden adalah di luar tembok sementara Gereja Makam Kudus adalah dalam diri mereka.

Namun, tembok kota diperluas oleh Herodes Agripa dalam 41-44 AD dan hanya kemudian tertutup lokasi Makam Kudus, sehingga kedua situs yang di luar tembok pada waktu Yesus.

Namun, ulama umumnya sepakat bahwa Taman Makam bukan situs sebenarnya dari 'pemakaman Yesus. According to Jerome Murphy-O'Connor,Menurut Jerome Murphy-O'Connor, "tidak ada kemungkinan bahwa itu sebenarnya tempat di mana Kristus dikuburkan." Holy Land specialist Dr. Carl Rasmussen comments, Tanah Suci spesialis Dr Carl Rasmussen komentar, "itu pendapat saya bahwa Gereja Makam Suci mempertahankan tradisi yang lebih akurat."

Salah satu masalah dengan Garden Tomb adalah bahwa, berdasarkan konfigurasi, ia berasal dari zaman Perjanjian Lama akhir (abad ke-9 SM-7). Jadi itu bukan "makam baru" (Matius 27:60, Yohanes 19:41) pada saat penyaliban.

Selain itu, bangku-bangku penguburan ditebang pada periode Byzantine (AD abad ke-4-6) untuk membuat sarkofagus batu, radikal menodai makam. Hal ini jelas menunjukkan bahwa orang Kristen awal tidak percaya ini adalah tempat pemakaman Kristus.

itus Gereja Makam Suci, di sisi lain, tampaknya telah menarik pengabdian Kristen sejak sebelum Konstantin. (Lihat di bawah "Keaslian" pada artikel untuk informasi lebih lanjut.)

Para sipir dari properti (Taman Inggris yang berbasis di Makam Association) menekankan bahwa itu adalah kebangkitan Yesus, bukan masalah untuk menemukan tempat yang tepat dari pemakaman, bahwa adalah penting.Terlepas dari keasliannya, Makam Garden adalah tempat yang baik untuk merenungkan penguburan kematian Kristus dan tentunya lebih mudah diidentifikasi dengan rekening Injil dari adegan gelap dan perkotaan Gereja Makam Suci.

Apa yang harus Lihat

bentuk tengkorak, setidaknya soket mata besar, dapat dilihat dalam tebing itu. Tebing curam berbatu ini digunakan sebagai sebuah tambang batu, mungkin druing saat Herodes Agripa I (37-44 AD).

Makam itu ditandai dengan tanda-tanda multibahasa dan pintu kayu bantalan kata-kata bahasa Inggris, "Ia tidak ada di sini -. karena ia telah bangkit"

Pintu dan jendela di fasad mungkin makam tanggal dari zaman Bizantium atau Crusader.Saluran yang mendalam di tanah, kadang-kadang diidentifikasi sebagai alur untuk rolling batu digunakan untuk menyegel kubur, adalah tanggal tidak diketahui dan tujuan.

Di dalam kubur itu ada dua kamar berdampingan. Dari ruang depan, satu berbelok kanan untuk memasuki ruang pemakaman. Konfigurasi ini adalah khas abad ke-9-7 (Besi Umur) makam-makam di daerah tersebut. Makam dari zaman Yesus memiliki ruang pemakaman di belakang ruang depan dalam garis lurus, dan setiap bangku tubuh (arcosolium) diatur dalam lengkungan. Dalam Tomb Garden, bangku tubuh hanya memperpanjang dari dinding.

Sebagaimana disebutkan di atas, bangku-bangku tubuh yang diukir turun oleh orang Kristen Bizantium untuk digunakan sebagai sarkofagus batu, ini masih dapat dilihat. Pada Abad Pertengahan, Tentara Salib menurunkan permukaan batu di depan makam, kubah dibangun melawannya, dan digunakan situs sebagai stabil.

Makam Garden adalah tempat yang tenang ditujukan untuk ibadah dan refleksi. Ada fasilitas yang baik, termasuk bangku, air minum, toilet, dan akses kursi roda ke kebun. Ada juga toko suvenir dengan koleksi yang lengkap.


Senin, 03 Januari 2011


Catatan Sejarah Gereja Mula-Mula



A.D.30-50 Gereja dilahirkan di Yerusalem pada hari Pentakosta dan jumlahnya bertumbuh sangat cepat. Petrus, Yakobus, dan Yohanes muncul dari antara para rasul. Surat pertama Petrus menyebutkan kejamakan penatua (1 Petrus 5:1-3), petrus sendiri adalah salah satu dari antara penatua. Sebuah penekanan yang kuat dan legalistik oleh Yakobus terbukti sebagai kendala bagi gereja-gereja di Yerusalem. John W. Kennedy di dalam bukunya,The Torch of The Testimony, menulis sebagai berikut mengenai gereja Yerusalem, "Gereja Yerusalem menemukan bahwa lebih sulit bagi mereka untuk terpisah sama sekali dari upacara-upacara tradisi Yahudi, dan obsesi ini disertai dengan bentuk luar ... adalah permulaan dari proses pembusukan yang akhirnya mengotori dan merusak kehidupan gereja".

A.D.43-67 Paulus dibawa oleh Barnabas ke Antiokhia, di mana mereka bekerja bersama-sama dan dari sana mereka diutus keluar untuk membangun jemaat-jemaat baru. Kennedy memberi komentar atas periode waktu ini, "Fokus dari pekerjaan Roh Kudus tak dapat dipungkiri beralih dari Yerusalem ke Antiokhia". Jemaat-jemaat yang dibangun oleh Paulus terbukti sebagai ekspresi lokal tubuh Kristus. Pekerjaan dan surat-surat Paulus menunjukkan pola kepemimpinan (pemerintahan) teokrasi Allah -- atas perhimpunan lokal.

Berikut ini adalah karakteristik dari jemaat tersebut yang tampak dalam surat Paulus.

  1. Pelayanan mereka bersifat spontan, profetik (kenabian) dan kharismatik (disertai karunia-karunia Roh Kudus).

  2. Tidak ada pembedaan antara pendeta/imam dan kaum awam.

  3. Hubungan kekeluargaan dan kehidupan secara tubuh (body life) atau karporat adalah penekanan utama jemaat lokal, bukan struktur keorganisasian.

  4. Tidak ada format pertemuan yang telah diprogramkan terlebih dahulu; kontrol/pimpinan Roh Kudus yang diutamakan.

  5. Para pemimpin terutama adalah hamba-hamba yang melayani dengan anugerah dan urapan yang mereka terima, bukan dengan otoritas karena suatu jabatan.

  6. Masing-masing himpunan jemaat adalah otonom di bawah pengawasan sejawatan panatua yang bertanggung jawab untuk mengembalakan dan melengkapi orang-orang kudus.

Berikut ini adalah beberapa catatan dokumentasi kepemimpinan gereja lokal, kira-kira seratus tahun pertama.

  1. The Didache (ditulis oleh para Rasul yang mula-mula). Dokumen ini, yang disirkulasikan di antara gereja-gereja pertama, tidak membedakan antara penatua, bishop, atau presbyter. (J.B.Lightfoot, THE APOSTOLIC FATHERS, hal 121)

  2. DR. Bill Hamondi dalam bukunya, THE Eternal Churck menyatakan, "Pada akhir zaman kerasulan, masing-masing gereja berdiri sendiri dan di gembalakan oleh sejawatan gembala (Hal 94).

  3. Kennedy memberi komentar atas kepemimpinan (gereja mula-mula) "Dua kata Yunani yang diterjemahkan sebagai "Bishop" (uskup) atau "Penilik" (Pengawas) (Episkopos) dan "Penatua" (presbuteros) menunjukkan jawatan yang sama dan dipakai dalam arti yang sama". (Hal 22) "Gereja mula-mula tidak terikat dalam suatu organisasi perserikatan apapun meski mereka secara erat disatukan oleh persekutuan/hubungan baik". (Hal 32)

  4. E.H. Broadbent di dalam bukunya, "The Pilgrim Church" nyatakan, "kata 'penatua' adalah sama dengan 'presbyter' dan kata 'penilik' adalah sama dengan 'bishop', dan Kisah Para Rasul 20:17-35 menunjukkan bahwa ada beberapa jabatan seperti itu di dalam satu gereja. (Hal 8)

  5. Philip Schaff di dalam bukunya "History of The Christian Church" menulis sebagai berikut, "istilah 'presbyter' (penatua) dan 'bishop' (penilik, pengawas) menunjukkan jawatan yang identik dan sama dalam Perjanjian Baru ... mereka ada sebagai suatu kejamakan atau suatu jawatan di dalam jemaat yang satu dan sama ... kepenatua selalu terbentuk sejawatan penatua... tidak disangkal lagi mereka memelihat hubugan kesamaan secara persaudaraan". (Hal 491-497)

  6. Karya-karya tulis Clement dari Romawi (A.D 96) menggunakan kata 'bishop' dan 'penatua' dalam arti yang sama. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus dia menulis, "mari kita menghormati para penatua kita", "tundukkan diri kepada presbyter. (J.S. Lightfoot, THE Apostolic Father, hal 1-41)

  7. Surat Polycarp (A.D 110) kepada jemaat di Filipi menyebutkan tuntutan-tuntutan karakter bagi para presbyter sama yang dituliskan Paulus dalam surat-suratnya. Dia membuka suratnya dengan kata-kata, "Polycarp dan para presbytery yang menyertainya (J.S. Lightfoot, THE Apostolic Father, hal 91-99)

Pada zaman Clement dan Polycarp, mulailah para presbyter disebut sebagai "imam-imam". Inilah langkah halus pertama yang mengakibatkan lahirnya dua kelompak orang percaya, pendeta/imam dan kaum awam. Polycarp dan Clement mengenal hanya ada dua kelompok pelayanan di dalam jemaat-jemaat yang mereka pimpin, para penatua dan para diaken. Sejak saat itu karunia-karunia rohani kurang sering beroperasi di dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Penekanan pada pewahyuan dan karunia-karunia Roh secara perlahan-lahan digantikan oleh pengajaran dan pendefinisian. Ignatius, Bishop Antiokhia yang seangkatan dengan Polycarp, menyusun suatu haluan yang akhirnya dipegang oleh gereja-gereja abad ke-2. Dia memperkuat pembedaan antara pendeta (imam) dan kaum awam. Setiap kepemimpinan memunyai suatu anggota yang diangkat Bishop (Uskup) dan para penatua yang lainnya serta jemaat harus tunduk. Jadi ada tiga kelompok peran pemimpin yang mulai menggantikan para penatua dan para diaken dari gereja mula-mula. Karena manifestasi karunia-karunia Roh dan pelbagai pelayanan rohani berkurang, khususnya rasul-rasul dan nabi-nabi, kepemimpinan atas kehidupan gereja beralih dari Roh Kudus kepada jawatan kepemimpinan yang birokratis.

Karakter kehambaan dan kerendahan hati yang sangat penting di dalam jawatan kepenatuaan menjadi kurang penting dibandingkan dengan seorang pemimpin yang berkharisma kuat karena orang-orang pada waktu itu lebih mengingini struktur organisasi dan ketetapan yang terdefinisikan dengan baku untuk menghadapi "kekacauan" ajaran yang muncul saat itu. Akibat yang tidak dapat dihindarkan jawatan bishop (uskup) ini adalah jawatan ini mulai menggantikan peranan penting pelayanan kerasulan abad pertama (red-membangun hubungan pelayanan persekutuan antar jemaat-terdekat-diberbagai lokal dan menilik perkembangannya). Ketika para bishop mulai memegang kekuasaan atas jemaat-jemaat di kawasan yang berdekatan, ada satu tingkat kekuasaan lagi yang ditetapkan untuk mewakili masing-masing jemaat baru kepada bishop mereka. Jawatan pelayanan lokal ini dikenal kemudian sebagai "gembala" (pastor). Saat itu, para penatua bukan lagi lima jawatan (Efesus 4:11), para diaken sangat dibatasi di dalam pelayanan rohani mereka, tubuh Kristus dibagi menjadi para pendeta (imam) dan kaum awam dan jemaat-jemaat tidak lagi otonom (berdiri sendiri).

Berikut ini adalah acuan-acuan tentang gereja pada abad kedua dan ketiga.

  1. Di dalam surat-suratnya, Ignatius menekankan perlunya penatua yang kuat untuk memimpin presbytery dan Dia menyebut ini sebagai jawatan "bishop" dan "episkopat". Dia menulis kepada gereja Efesus, saya telah menerima kalian seluruh jemaat di dalam pribadi/diri Onesimus ... yaitu bishop kalian. Sebab itu kita harus mengindahkan bishop sebagaimana Tuhan sendiri. Kepada gereja Smyrna, Ignatius menulis, "jangan seorang pun mengerjakan apa saja berkenaan hukum (tidak sah) untuk membaptis atau mengadakan pertemuan kasih tanpa seizin bishop, (J.C. Lightfoot, THE APOSTOLIC IULIC FATHER, Hal 63-68).

  2. Kennedy menulis tentang gereja pada masa itu sebagai berikut, "dari masa sejarah yang tercatat di buku Kisah Para Rasul sampai dengan akhir abad, kentara sekali kurangnya informasi tentang sejarah perkembangan jemaat-jemaat. Bila kita keluar dari masa yang tidak menentu ini, kita menemukan gereja yang dalam banyak hal berbeda dari gereja-gereja perjanjian baru. Perubahan-perubahan besar telah terjadi dan tidak salah lagi telah terjadi perubahan haluan kelembagaan pada tahun-tahun berikutnya". (John W. Kennedy, THE TORCH OF THE TESTIMONY, Hal 37). Di dalam bagian yang sama dari bukunya ini, Kennedy membuat suatu pengamatan yang tajam, yang harus diperhatikan oleh setiap pemimpin: "apapun yang Tuhan sudah buat, manusia akhirnya ingin mengubah dan membentuk menurut kesukaanya".

  3. L.P. Qualben, di dalam bukunya A History Of the Christian Church menulis "selama abad kedua dan ketiga terjadi perubahan-perubahan penting. Gereja-gereja lokal tidak lagi dipimpin oleh sejawatan penatua, melainkan oleh jawatan tunggal yang disebut "bishop" (uskup). Kehadiran bishop menjadi penting bagi setiap tindakan sah dari jemaat. Pada kenyataannya, tanpa seorang bishop tidak ada gereja". (Hal 96)

  4. Hatton menulis, "secara berangsur-angsur wilayah kekuasaan para bishop meliputi kota-kota yang berdekatan. Bishop Calixtus adalah yang pertama mengklaim dirinya sebagai bishop berdasarkan matius 16:18. Tertullian menyebut Calixtus sebagai perampas kekuasaan karena mengklaim dirinya sebagai bishop. (Dr. Bill Hamon, THE ETERNAL CHURCH, Hal 94).

Berikut ini adalah pemimpin-pemimpin gereja yang paling terkemuka yang menjembatani abad kedua dan akhir era Ante-Nicene (A.D 175-325): irenaeus; Clement of Alexandria; Origen dan Cyprian. Selama periode ini, pemerintahan oleh kerajaan bishop sungguh-sungguh tidak dapat dipungkiri/disangkali lagi. Jadi pemerintahan secara hirarki di dalam gereja menjadi berurat-akar di dalam kekristenan yang mana sebagian besar masih tetap ada hingga hari ini meskipun banyak terjadi restorasi. Di hari kemudian ketika bishop romawi mengungguli bishop-bishop yang lain, dia disebut "yang utama di antara yang sederajat (The First Among Equals)".

Satu dari antara pakar-pakar yang paling diakui dalam hal sejarah gereja adalah seorang teolog dan ahli Alkitab yang terkenal, J.B. Lightfoot. Essaynya berjudul THE CHRISTIAN MINISTRY, ditulis tahun 1868 mengandung eksposisi yang luar biasa tentang evolusi dari dua jawatan (penatua-penatua dan diaken-diaken gereja) dalam pelayanan gereja mula-mula menjadi tiga jawatan pelayanan (bishop, penatua-penatua, dan diaken-diaken) pada abad kedua dan ketiga. Tentu saja perbedaan yang paling jelas antara gereja-gereja pada masa Paulus dan gereja-gereja dua ratus tahun kemudian adalah makin berkurangnya peranan Roh Kudus. Namun hal ini hanya mungkin terjadi karena semakin kuatnya kontrol kepemimpinan. Oleh sebab itu, supaya restorasi terjadi dengan sempurna, yang pertama haruslah muncul suatu pelayanan kerasulan dan kenabian yang kuat oleh orang-orang yang memiliki hati dan visi seperti murid-murid pertama (Para Rasul). Mereka adalah orang-orang yang menyadari bahwa Tuhan akan kembali untuk gereja yang dikuduskan/dipisahkan sepenuhnya untuk Dia, yang dapat Ia tempatkan dihadapan-Nya "dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa dengan itu" (Efesus 5:26-27); mempelai perempuan yang mempersiapkan dirinya! oleh sebab itu, mereka akan memberi diri untuk segala sesuatu sehubungan dengan rencana kekal dan kepenuhan Ilahi atas gereja. (Crucible of the Future A,prophetic Look Into the Nineties by Dale Rumble).

Diambil dari:

Judul buku : Bangkit, Edisi 1992 -- 1993
Judul artikel : Catatan Sejarah Gereja Mula-Mula
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Pelayanan Bersama Indonesia, Jakarta
Halaman : 59 -- 62